Minggu, 25 November 2012
coretan Mahasiswa Biolovers : Teori-Teori Belajar
coretan MaBi: Teori-Teori Belajar: BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pendidikan merupakan kunci keberhasilan suatu bangsa dan negara. Seperti bangsa yang ingin m...
Teori-Teori Belajar
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan merupakan kunci keberhasilan suatu bangsa dan
negara. Seperti bangsa yang ingin maju, membangun, dan memperbaiki situasi atau
keadaan masyarakat dan dunia pasti mengatakan bahwa pendidikan merupakan
persoalan yang pelik. Namun semuanya merasakan bahwa pendidikan merupakan salah
satu tugas negara yang amat penting.
Dalam Negara kita pengajaran sekarang ini belum optimal
seperti yang diharapkan. Hal ini terlihat dengan kekacauan-kekacauan yang
muncul di masyarakat, diduga bermula dari apa yang dihasilkan oleh dunia
pendidikan. Pendidikan yang sesungguhnya paling besar memberikan kontribusi
terhadap kekacauan ini.
Pembelajaran yang mengakui hak anak untuk melakukan tindakan
belajar sesuai karakteristiknya. Hal penting yang perlu di ketahui oleh para guru
ialah pertanyaan yang paling penting
tentang belajar adalah : Kondisi seperti apa yang paling efektif untuk
menciptakan perubahan yang diinginkan dalam tingkah laku? Atau dengan kata
lain, bagaimana bisa apa yang kita ketahui tentang belajar diterapkan dalam
instruksi? Untuk menjawab pertanyaan tersebut tentunya harus mengetahui tentang
Penjelasan-penjelasan tentang belajar. Sehubungan dengan hal tersebut. Belajar
dan mengajar adalah dua kegiatan yang tunggal tapi memang memiliki makna yang
berbeda. Belajar diartikan sebagai suatu perubahan tingkah-laku karena hasil
dari pengalaman yang diperoleh. Sedangkan mengajar adalah kegiatan menyediakan
kondisi yang merangsang serta mangarahkan kegiatan belajar siswa/subjek belajar
untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang dapat membawa
perubahan serta kesadaran diri sebagai pribadi.Menurut Arden N. Frandsen
mengatakan hal –hal pendorong untuk belajar adalah sebagai berikut yang ;
1.
adanya
sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih luas
2.
adanya sifat kreatif yang ada pada manusia dan
keinginan untuk maju;
3.
adanya keinginan untuk mendapatkan simpati
dari orang tua, guru, dan teman-teman
4.
adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan
yang lalu dengan usaha yang baru, baik dengan koperasi maupun dengan
kompetensi;
5.
adanya
keinginan untuk mendapatkan rasa aman;dan
6.
adanya
ganjaran atau hukuman sebagai akhir dari pada belajar.(Frandsen, 1961, p. 216).
Secara luas teori belajar selalu dikaitkan dengan ruang
lingkup bidang psikologi atau bagaimanapun juga membicarakan masalah belajar
ialah membicarakan sosok manusia. Ini dapat diartikan bahwa ada beberapa ranah
yang harus mendapat perhatian. anah-ranah itu ialah ranah kognitif, ranah
afektif dan ranah psikomotor. Akan tetapi manusia sebagai makhluk yang
berpikir, berbeda dengan binatang. Binatang adalah juga makhluk yang dapat
diberi pelajaran, tetapi tidak menggunakan pikiran dan akal budi. Ivan
Petrovich Pavlov, ahli psikologi Rusia berpengalaman dalam melakukan
serangkaian percobaan.Proses belajar ini terdiri atas pembentukan asosiasi
(pembentukan hubungan antara gagasan, ingatan atau kegiatan pancaindra) dengan
makanan. Proses belajar yang digambarkan seperti itu menurut Pavlov terdiri
atas pembentukan asosiasi antara stimulus dan respons refleksif.
Dasar penemuan Pavlov tersebut, menurut J.B. Watson diberi
istilah behaviorisme. Watson berpendapat bahwa perilaku manusia harus
dipelajari secara objektif. la menolak gagasan mentalistik yang bertalian
dengan bawaan dan naluri. Watson menggunakan teori classical conditioning untuk
semuanya yang bertalian dengan pembelajaran. Pada umumnya ahli psikologi
mendukung proses mekanistik. Maksudnya kejadian lingkungan secara otomatis akan
menghasilkan tanggapan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah
pengertian teori belajar Humanisme?
2. Apakah
pengertian teori belajar Behaviorime?
3. Apakah
pengertian teori belajar Kongnitif ?
4. Siapa
saja tokoh-tokoh teori belajar?
5. Bagaimanakah
penerapan kedua teori belajar tersebut?
6. Bagaimana
implikasi teori-teori belajar tersebut?
1.3 Tujuan penyusunan makalah
Tujuan
penulisan ini yaitu;
1. Supaya kita mengetahui tentang berbagai macam teori belajar
2. Untuk mengetahui bagaimana cara menerapkan teori-teori belajar dalam pendidikan
3. Mendeskripsikan implikasi teori belajar
4. Mengkaji implikasi teori belajar
1. Supaya kita mengetahui tentang berbagai macam teori belajar
2. Untuk mengetahui bagaimana cara menerapkan teori-teori belajar dalam pendidikan
3. Mendeskripsikan implikasi teori belajar
4. Mengkaji implikasi teori belajar
1.4 Manfaat
penyusunan makalah
Adapun
penyusunan makalah ini bermanfaat untuk mengkaji ilmu pendidikan khususnya
dalam memahami implikasi pendidikan, pembelajaran, pengajaran, prinsip-prinsip
pembelajaran, dan perkembangan teori pembelajaran .
Bagi mahasiswa agar memahami tentang pengertian,
prinsip, dan perkembangan teori pembelajaran. Untuk para pendidik agar pendidik
tidak salah persepsi tentang pendidikan, pembelajaran, dan pengajaran, serta
dapat menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran dan teori pembelajaran yang
sesungguhnya.
BAB II
PEMBAHASAN
1.1 TEORI
BELAJAR HUMANISTIK
Ciri
khas teori belajar humanistik adalah memahami tingkah laku seseorang dari sudut
si pelaku dan bukan si pengamat.jadi pengertian humanistik yang beragam membuat
batasan-batasan aplikasinya dalam dunia pendidikan mengundang berbagai macam
arti pula. Sehingga perlu adanya satu pengertian yang disepakati mengenai kata
humanistik dalam pendidikan. Dalam artikel “What is Humanistik Education?”,
Krischenbaum menyatakan bahwa sekolah, kelas, atau guru dapat dikatakan
bersifat humanistik dalam beberapa kriteria. Hal ini menunjukkan bahwa ada
beberapa tipe pendekatan humanistik dalam pendidikan. Ide mengenai
pendekatan-pendekatan ini terrangkum dalam psikologi humanistik.
Dalam
artikel “some educational implications of the Humanistic Psychologist”
Abraham
Maslow mencoba untuk mengkritisi teori Freud dan
behavioristik.
Menurut Abraham, yang terpenting dalam melihat manusia adalah potensi yang
dimilikinya. Humanistik lebih melihat pada sisi perkembangan kepribadian
manusia daripada berfokus pada “ketidaknormalan” atau “sakit” seperti yang
dilihat oleh teori psikoanalisa Freud. Pendekatan ini melihat kejadian setelah
“sakit” tersebut sembuh, yaitu bagaimana manusia membangun dirinya untuk
melakukan hal-hal yang positif. Kemampuan bertindak positif ini yang disebut sebagai
potensi manusia dan para pendidik yang beraliran humanistik biasanya
memfokuskan penganjarannya pada pembangunan kemampuan positif ini. Kemampuan
positif disini erat kaitannya dengan pengembangan emosi positif yang terdapat
dalam domain afektif, misalnya ketrampilan membangun dan menjaga relasi yang
hangat dengan orang lain, bagaimana mengajarkan kepercayaan, penerimaan,
keasadaran, memahami perasaan orang lain, kejujuran interpersonal, dan
pengetahuan interpersonal lainnya. Intinya adalah meningkatkan kualitas
ketrampilan interpersonal dalam kehidupan sehari-hari. Selain menitik beratkan
pada hubungan interpersonal, para pendidikan yang beraliran humanistik juga
mencoba untuk membuat pembelajaran yang membantu anak didik untuk meningkatkan
kemampuan dalam membuat, berimajinasi, mempunyai pengalaman, berintuisi,
merasakan, dan berfantasi. Pendidik humanistik mencoba untuk melihat dalam
spektrum yang luas mengenai perilaku manusia. “Berapa banyak hal yang bisa
dilakukan manusia? Dan bagaimana aku bisa membantu mereka untuk melakukan
hal-hal tersebut dengan lebih baik? Melihat hal-hal yang diusahakankan oleh
para pendidik humanistik, tampak bahwa pendekatan ini mengedepankan pentingnya
emosi dalam dunia pendidikan. Freudian melihat emosi sebagai hal yang mengganggu
perkembangan, sementara humanistik melihat keuntungan pendidikan emosi. Jadi
bisa dikatakan bahwa emosi adalah karakterisitik yang sangat kuat yang nampak
dari para pendidik beraliran humanistik. Karena berpikir dan merasakan saling
beriringan, mengabaikan pendidikan emosi sama dengan mengabaikan salah satu
potensi terbesar manusia. Kita dapat belajar menggunakan emosi kita dan
mendapat keuntungan dari pendekatan humanistik ini sama seperti yang kita
dapatkan dari pendidikan yang menitikberatkan kognisi.
Tujuan
utama para pendidik ialah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya,yaitu
membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sebagai manusia yang
unik dan membantunya dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada pada diri
mereka.
Perhatian
teori belajar humanistik adalah ada pada maslah setiap individu bagaimana
individu menghubungkan pengalaman-pengalamandan maksud-maksud pribadi
mereka.menurut aliran ini ,penyusun dan
penyaji materi harus sesuai dengan perasaan dan perhatian siswa.implikasinya
bagi pendidikan adalah pendidikan humanistik mampu memperkenalkan apresiasinya
yang tinggi kepada manusia senagai makhluk Tuhan YME.
A. Tokoh penting dalam teori belajar humanistik
secara teoritik antara lain adalah: Arthur W. Combs, Abraham Maslow dan Carl
Rogers.
a.
Arthur Combs (1912-1999)
Bersama dengan Donald
Snygg (1904-1967) mereka mencurahkan banyak perhatian pada dunia pendidikan.
Meaning (makna atau arti) adalah konsep dasar yang sering digunakan. Belajar
terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak bisa memaksakan materi yang
tidak disukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka. Anak tidak bisa
matematika atau sejarah bukan karena bodoh tetapi karena mereka enggan dan
terpaksa dan merasa sebenarnya tidak ada alasan penting mereka harus
mempelajarinya. Perilaku buruk itu sebenarnya tak lain hanyalah dati
ketidakmampuan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan
kepuasan baginya.
Untuk itu guru harus memahami perlaku siswa dengan
mencoba memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah
perilakunya, guru harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang
ada. Perilaku internal membedakan seseorang dari yang lain. Combs berpendapat
bahwa banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa siswa mau belajar
apabila materi pelajarannya disusun dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal
arti tidaklah menyatu pada materi pelajaran itu. Sehingga yang penting ialah
bagaimana membawa si siswa untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari materi
pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan kehidupannya.
Combs memberikan lukisan persepsi diri dan dunia seseorang seperti dua lingkaran (besar
dan kecil) yang bertitik pusat pada satu. Lingkaran kecil (1) adalah gambaran
dari persepsi diri dan lingkungan besar (2) adalah persepsi dunia. Makin jauh
peristiwa-peristiwa itu dari persepsi diri makin berkurang pengaruhnya terhadap
perilakunya. Jadi, hal-hal yang mempunyai sedikit hubungan dengan diri, makin
mudah hal itu terlupakan.
b.
Abraham Maslow
Teori Maslow didasarkan
pada asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal :
1. suatu usaha yang positif
untuk berkembang
2. kekuatan untuk melawan
atau menolak perkembangan itu.
Maslow mengemukakan bahwa
individu berperilaku dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat
hirarkis. Pada diri masing-masing orang
mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau
berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut membahayakan apa yang sudah
ia miliki dan sebagainya, tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan
untuk lebih maju ke arah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua
kemampuan, ke arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu
juga ia dapat menerima diri sendiri(self).
Maslow membagi kebutuhan-kebutuhan (needs) manusia
menjadi tujuh hirarki. Bila seseorang telah dapat memenuhi kebutuhan pertama,
seperti kebutuhan fisiologis, barulah ia dapat menginginkan kebutuhan yang
terletak di atasnya, ialah kebutuhan mendapatkan ras aman dan seterusnya.
Hierarki kebutuhan manusia menurut Maslow ini mempunyai implikasi yang penting
yang harus diperharikan oleh guru pada waktu ia mengajar anak-anak. Ia
mengatakan bahwa perhatian dan motivasi belajar ini mungkin berkembang kalau
kebutuhan dasar si siswa belum terpenuhi.
c.
Carl Rogers
Carl Rogers lahir 8
Januari 1902 di Oak Park, Illinois Chicago, sebagai anak keempat dari enam
bersaudara. Semula Rogers menekuni bidang agama tetapi akhirnya pindah ke
bidang psikologi. Ia mempelajari psikologi klinis di Universitas Columbia dan
mendapat gelar Ph.D pada tahun 1931, sebelumnya ia telah merintis kerja klinis
di Rochester Society untuk mencegah kekerasan pada anak.
Gelar profesor diterima di Ohio State tahun 1960. Tahun
1942, ia menulis buku pertamanya, Counseling and Psychotherapy dan secara
bertahap mengembangkan konsep Client-Centerd Therapy.
Rogers membedakan dua
tipe belajar, yaitu:
1. Kognitif ( kebermaknaan )
2. Experiential ( pengalaman atau signifikansi )
Guru menghubungan
pengetahuan akademik ke dalam
pengetahuan terpakai seperti memperlajari mesin dengan tujuan untuk memperbaikai
mobil. Experiential Learning menunjuk pada pemenuhan kebutuhan dan keinginan
siswa. Kualitas belajar experiential learning mencakup : keterlibatan siswa
secara personal, berinisiatif, evaluasi oleh siswa sendiri, dan adanya efek
yang membekas pada siswa.
Menurut Rogers yang terpenting dalam proses pembelajaran
adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran,
yaitu:
1.
Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang
wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada
artinya.
2.
Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi
dirinya. Pengorganisasian bahan pelajaran berarti mengorganisasikan bahan dan
ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa
3.
Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan
bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.
4.
Belajar yang bermakna dalam masyarakat modern
berarti belajar tentang proses.
Dari bukunya Freedom To
Learn, ia menunjukkan sejumlah prinsip-prinsip dasar humanistik yang penting diantaranya
ialah :
a.
Manusia itu mempunyai kemampuan belajar secara
alami.
b.
Belajar yang signifikan terjadi apabila materi
pelajaran dirasakan murid mempunyai relevansi dengan maksud-maksud sendiri.
c.
Belajar yang menyangkut perubahan di dalam
persepsi mengenai dirinya sendiri diangap mengancam dan cenderung untuk
ditolaknya.
d.
Tugas-tugas belajar yang mengancam diri ialah
lebih mudah dirasakan dan diasimilasikan apabila ancaman-ancaman dari luar itu
semakin kecil.
e.
Apabila ancaman terhadap diri siswa rendah, pengalaman
dapat diperoleh dengan berbagai cara yang berbeda-beda dan terjadilah proses
belajar.
f.
Belajar yang bermakna diperoleh siswa dengan
melakukannya.
g.
Belajar diperlancar bilamana siswa dilibatkan
dalam proses belajar dan ikut bertanggungjawab terhadap proses belajar itu.
h.
Belajar inisiatif sendiri yang melibatkan pribadi
siswa seutuhnya, baik perasaan maupun intelek, merupakan cara yang dapat
memberikan hasil yang mendalam dan lestari.
i.
Kepercayaan terhadap diri sendiri, kemerdekaan,
kreativitas, lebih mudah dicapai terutama jika siswa dibiasakan untuk mawas
diri dan mengritik dirinya sendiri dan penilaian dari orang lain merupakan cara
kedua yang penting.
j.
Belajar yang paling berguna secara sosial di
dalam dunia modern ini adalah belajar mengenai proses belajar, suatu
keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan penyatuannya ke dalam
diri sendiri mengenai proses perubahan itu.
Salah satu model
pendidikan terbuka mencakuo konsep mengajar guru yang fasilitatif yang
dikembangkan Rogers diteliti oleh Aspy dan Roebuck pada tahun 1975 mengenai
kemampuan para guru untuk
menciptakan kondisi yang mendukung yaitu empati, penghargaan dan
umpan balik positif. Ciri-ciri guru yang
fasilitatif adalah :
1.
Merespon perasaan siswa
2.
Menggunakan ide-ide siswa untuk melaksanakan
interaksi yang sudah dirancang
3.
Berdialog dan berdiskusi dengan siswa
4.
Menghargai siswa
5.
Kesesuaian antara perilaku dan perbuatan
6.
Menyesuaikan isi kerangka berpikir siswa
(penjelasan untuk mementapkan kebutuhan segera dari siswa)
7.
Tersenyum pada siswa
Dari penelitian itu
diketahui guru yang fasilitatif mengurangi angka bolos siswa, meningkatkan
angka konsep diri siswa, meningkatkan upaya untuk meraih prestasi akademik
termasuk pelajaran bahasa dan matematika yang kurang disukai, mengurangi
tingkat problem yang berkaitan dengan disiplin dan mengurangi perusakan pada
peralatan sekolah, serta siswa menjadi lebih spontan dan menggunakan tingkat
berpikir yang lebih tinggi.
B. Implikasi Teori Belajar Humanistik
a. Guru Sebagai Fasilitator
Psikologi humanistik memberi perhatian atas guru sebagai
fasilitator yang berikut ini adalah berbagai cara untuk memberi kemudahan
belajar dan berbagai kualitas sifasilitator. Ini merupakan ikhtisar yang sangat
singkat dari beberapa guidenes(petunjuk):
1.
Fasilitator sebaiknya memberi perhatian kepada
penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau pengalaman kelas
2.
Fasilitator membantu untuk memperoleh dan
memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga tujuan-tujuan
kelompok yang bersifat umum.
3.
Dia mempercayai adanya keinginan dari
masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi
dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang
bermakna tadi.
4.
Dia mencoba mengatur dan menyediakan
sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa
untuk membantu mencapai tujuan mereka.
5.
Dia menempatkan dirinya sendiri sebagai suatu
sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.
6.
Di dalam menanggapi ungkapan-ungkapan di dalam
kelompok kelas, dan menerima baik isi yang bersifat intelektual dan sikap-sikap
perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara yang sesuai, baik bagi
individual ataupun bagi kelompok
7.
Bilamana cuaca penerima kelas telah mantap,
fasilitator berangsur-sngsur dapat berperanan sebagai seorang siswa yang turut
berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan turut menyatakan pendangannya
sebagai seorang individu, seperti siswa yang lain.
8.
Dia mengambil prakarsa untuk ikut serta dalam
kelompok, perasaannya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan juga tidak
memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh saja digunakan
atau ditolak oleh siswa
9.
Dia harus tetap waspada terhadap
ungkapan-ungkapan yang menandakan adanya perasaan yang dalam dan kuat selama
belajar
10. Di dalam berperan sebagai
seorang fasilitator, pimpinan harus mencoba untuk menganali dan menerima
keterbatasan-keterbatasannya sendiri.
C.
Aplikasi Teori Humanistik Terhadap Pembelajaran
Siswa
Aplikasi teori humanistik lebih menunjuk pada ruh
atau spirit selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang
diterapkan. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator
bagi para siswa sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna
belajar dalam kehidupan siswa. Guru memfasilitasi pengalaman belajar kepada
siswa dan mendampingi siswa untuk memperoleh tujuan pembelajaran.
Siswa berperan sebagai pelaku utama (student
center) yang memaknai proses pengalaman belajarnya sendiri. Diharapkan siswa
memahami potensi diri , mengembangkan potensi dirinya secara positif dan
meminimalkan potensi diri yang bersifat negatif.
Tujuan pembelajaran lebih kepada proses
belajarnya daripada hasil belajar. Adapun proses yang umumnya dilalui adalah :
1.
Merumuskan tujuan belajar yang jelas
2.
Mengusahakan partisipasi aktif siswa melalui
kontrak belajar yang bersifat jelas , jujur dan positif.
3.
Mendorong siswa untuk mengembangkan kesanggupan
siswa untuk belajar atas inisiatif sendiri
4.
Mendorong siswa untuk peka berpikir kritis,
memaknai proses pembelajaran secara mandiri
5.
Siswa di dorong untuk bebas mengemukakan
pendapat, memilih pilihannya sendiri, melakukkan apa yang diinginkan dan
menanggung resiko dariperilaku yang ditunjukkan.
6.
Guru menerima siswa apa adanya, berusaha memahami
jalan pikiran siswa, tidak menilai secara normatif tetapi mendorong siswa untuk
bertanggungjawab atas segala resiko perbuatan atau proses belajarnya.
7.
Memberikan kesempatan murid untuk maju sesuai
dengan kecepatannya
8.
Evaluasi diberikan secara individual berdasarkan
perolehan prestasi siswa.
Pembelajaran berdasarkan teori humanistik ini cocok untuk
diterpkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan
kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena
sosial. Indikator dari keberhasilan aplikasi ini adalah siswa merasa senang
bergairah, berinisiatif dalam belajar dan terjaadi perubahan pola pikir,
perilaku dan sikap atas kemauan sendiri. Siswa diharapkan menjadi manusia yang
bebas, berani, tidak terikat oleh pendapat orang lain dan mengatur pribadinya
sendiri secara bertanggungjawab tanpa mengurangi hak-hak orang lain atau
melanggar aturan , norma , disiplin atau etika yang berlaku.
1.2
TEORI BELAJAR BEHAVIORISME
Teori belajar behavioristik menjelaskan belajar itu
adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara
konkret. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulans) yang menimbulkan
hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum-hukum mekanistik.
Stimulans tidak lain adalah lingkungan belajar anak, baik yang internal maupun
eksternal yang menjadi penyebab belajar. Sedangkan respons adalah akibat atau
dampak, berupa reaksi fifik terhadap stimulans. Belajar berarti penguatan
ikatan, asosiasi, sifat da kecenderungan perilaku S-R (stimulus-Respon).
Teori
Behavioristik:
- Mementingkan faktor lingkungan
- Menekankan pada faktor bagian
- Menekankan pada tingkah laku yang nampak dengan mempergunakan metode obyektif.
- Sifatnya mekanis
- Mementingkan masa lalu
A. Tokoh penting dalam teori belajar Behavioristik antara lain adalah sebagai berikut ;
1. Edward Edward Lee Thorndike (1874-1949): Teori Koneksionisme
Thorndike berprofesi sebagai seorang pendidik dan
psikolog yang berkebangsaan Amerika. Lulus S1 dari Universitas Wesleyen tahun
1895, S2 dari Harvard tahun 1896 dan meraih gelar doktor di Columbia tahun
1898. Buku-buku yang ditulisnya antara lain Educational Psychology (1903),
Mental and social Measurements (1904), Animal Intelligence (1911), Ateacher’s
Word Book (1921),Your City (1939), dan Human Nature and The Social Order
(1940).
Menurut Thorndike, belajar merupakan peristiwa
terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus
(S) dengan respon (R ). Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan
eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau
berbuat sedangkan respon dari adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan
karena adanya perangsang. Dari eksperimen kucing lapar yang dimasukkan dalam
sangkar (puzzle box) diketahui bahwa supaya tercapai hubungan antara stimulus
dan respons, perlu adanya kemampuan untuk memilih respons yang tepat serta
melalui usaha –usaha atau percobaan-percobaan (trials) dan kegagalan-kegagalan
(error) terlebih dahulu. Bentuk paling dasar dari belajar adalah “trial and
error learning atau selecting and connecting learning” dan berlangsung menurut
hukum-hukum tertentu. Oleh karena itu teori belajar yang dikemukakan oleh
Thorndike ini sering disebut dengan teori belajar koneksionisme atau teori
asosiasi. Adanya pandangan-pandangan Thorndike yang memberi sumbangan yang
cukup besar di dunia pendidikan tersebut maka ia dinobatkan sebagai salah satu
tokoh pelopor dalam psikologi pendidikan.
Percobaan Thorndike yang terkenal dengan binatang
coba kucing yang telah dilaparkan dan diletakkan di dalam sangkar yang tertutup
dan pintunya dapat dibuka secara otomatis apabila kenop yang terletak di dalam
sangkar tersebut tersentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori “trial and
error” atau “selecting and conecting”, yaitu bahwa belajar itu terjadi dengan
cara mencoba-coba dan membuat salah. Dalam melaksanakan coba-coba ini, kucing
tersebut cenderung untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak mempunyai
hasil. Setiap response menimbulkan stimulus yang baru, selanjutnya stimulus
baru ini akan menimbulkan response lagi, demikian selanjutnya, sehingga dapat
digambarkan sebagai berikut:
S R
SI RI Dst.
Dalam percobaan
tersebut apabila di luar sangkar diletakkan makanan, maka kucing berusaha untuk
mencapainya dengan cara meloncat-loncat kian kemari. Dengan tidak tersengaja
kucing telah menyentuh kenop, maka terbukalah pintu sangkar tersebut, dan
kucing segera lari ke tempat makan. Percobaan ini diulangi untuk beberapa kali,
dan setelah kurang lebih 10 sampai dengan 12 kali, kucing baru dapat dengan
sengaja enyentuh kenop tersebut apabila di luar diletakkan makanan.
Dari percobaan ini Thorndike
menemukan hukum-hukum belajar sebagai berikut :
1. Hukum
Kesiapan (law of readiness), yaitu semakin siap suatu organisme memperoleh
suatu perubahan tingkah laku, maka pelaksanaan tingkah laku tersebut akan
menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat.
Prinsip
pertama teori koneksionisme adalah belajar suatu kegiatan membentuk
asosiasi(connection) antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak.
Misalnya, jika anak merasa senang atau tertarik pada kegiatan jahit-menjahit,
maka ia akan cenderung mengerjakannya. Apabila hal ini dilaksanakan, ia merasa
puas dan belajar menjahit akan menghasilkan prestasi memuaskanPrinsip pertama
teori koneksionisme adalah belajar suatu kegiatan membentuk
asosiasi(connection) antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak.
Misalnya, jika anak merasa senang atau tertarik pada kegiatan jahit-menjahit,
maka ia akan cenderung mengerjakannya. Apabila hal ini dilaksanakan, ia merasa
puas dan belajar menjahit akan menghasilkan prestasi memuaskan.
Masalah
pertama hukum law of readiness adalah jika kecenderungan bertindak dan orang
melakukannya, maka ia akan merasa puas. Akibatnya, ia tak akan melakukan
tindakan lain.
Masalah
kedua, jika ada kecenderungan bertindak, tetapi ia tidak melakukannya, maka
timbullah rasa ketidakpuasan. Akibatnya, ia akan melakukan tindakan lain untuk
mengurangi atau meniadakan ketidakpuasannya.
Masalah
ketiganya adalah bila tidak ada kecenderungan bertindak padahal ia
melakukannya, maka timbullah ketidakpuasan. Akibatnya, ia akan melakukan
tindakan lain untuk mengurangi atau meniadakan ketidakpuasannya.
2.
Hukum Latihan (law of exercise), yaitu
semakin sering tingkah laku diulang/ dilatih (digunakan) , maka asosiasi
tersebut akan semakin kuat.
Prinsip law of exercise adalah koneksi
antara kondisi (yang merupakan perangsang) dengan tindakan akan menjadi lebih
kuat karena latihan-latihan, tetapi akan melemah bila koneksi antara keduanya
tidak dilanjutkan atau dihentikan. Prinsip menunjukkan bahwa prinsip utama
dalam belajar adalah ulangan. Makin sering diulangi, materi pelajaran akan
semakin dikuasai.
3.
Hukum akibat(law of effect), yaitu
hubungan stimulus respon cenderung diperkuat bila akibatnya menyenangkan dan
cenderung diperlemah jika akibatnya
tidak memuaskan. Hukum ini menunjuk
pada makin kuat atau makin lemahnya koneksi sebagai hasil perbuatan. Suatu
perbuatan yang disertai akibat menyenangkan cenderung dipertahankan dan lain
kali akan diulangi. Sebaliknya, suatu perbuatan yang diikuti akibat tidak
menyenangkan cenderung dihentikan dan tidak akan diulangi.
Koneksi antara
kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak dapat menguat atau melemah,
tergantung pada “buah” hasil perbuatan yang pernah dilakukan. Misalnya, bila
anak mengerjakan PR, ia mendapatkan muka manis gurunya. Namun, jika sebaliknya,
ia akan dihukum. Kecenderungan mengerjakan PR akan membentuk sikapnya.
Thorndike
berkeyakinan bahwa prinsip proses belajar binatang pada dasarnya sama dengan
yang berlaku pada manusia, walaupun hubungan antara situasi dan perbuatan pada
binatang tanpa dipeantarai pengartian. Binatang melakukan respons-respons langsung dari apa yang diamati dan
terjadi secara mekanis(Suryobroto, 1984).
Selanjutnya Thorndike menambahkan hukum tambahan sebagai
berikut:
a. Hukum
Reaksi Bervariasi (multiple response).
Hukum ini mengatakan bahwa pada
individu diawali oleh prooses trial dan error yang menunjukkan adanya
bermacam-macam respon sebelum memperoleh respon yang tepat dalam memecahkan
masalah yang dihadapi.
b. Hukum
Sikap ( Set/ Attitude).
Hukum ini menjelaskan bahwa
perilakku belajar seseorang tidak hanya ditentukan oleh hubungan stimulus
dengan respon saja, tetapi juga ditentukan keadaan yang ada dalam diri individu
baik kognitif, emosi , sosial , maupun psikomotornya.
c. Hukum
Aktifitas Berat Sebelah ( Prepotency of Element).
Hukum
ini mengatakan bahwa individu dalam proses belajar memberikan respon pada
stimulus tertentu saja sesuai dengan persepsinya terhadap keseluruhan situasi (
respon selektif).
d. Hukum
Respon by Analogy.
Hukum
ini mengatakan bahwa individu dalam melakukan respon pada situasi yang belum
pernah dialami karena individu sesungguhnya dapat menghubungkan situasi yang
belum pernah dialami dengan situasi lama yang pernah dialami sehingga terjadi
transfer atau perpindahan unsur-unsur yang telah dikenal ke situasi baru. Makin banyak unsur yang sama maka transfer akan makin
mudah.
e. Hukum
perpindahan Asosiasi ( Associative Shifting)
Hukum
ini mengatakan bahwa proses peralihan dari situasi yang dikenal ke situasi yang
belum dikenal dilakukan secara bertahap dengan cara menambahkan sedikit demi
sedikit unsur baru dan membuang sedikit demi sedikit unsur lama.
Selain menambahkan hukum-hukum
baru, dalam perjalanan penyamapaian teorinya thorndike mengemukakan revisi
Hukum Belajar antara lain :
- Hukum latihan ditinggalkan karena ditemukan pengulangan saja tidak cukup untuk memperkuat hubungan stimulus respon, sebaliknya tanpa pengulanganpun hubungan stimulus respon belum tentu diperlemah.
- Hukum akibat direvisi. Dikatakan oleh Thorndike bahwa yang berakibat positif untuk perubahan tingkah laku adalah hadiah, sedangkan hukuman tidak berakibat apa-apa.
- Syarat utama terjadinya hubungan stimulus respon bukan kedekatan, tetapi adanya saling sesuai antara stimulus dan respon.
- Akibat suatu perbuatan dapat menular baik pada bidang lain maupun pada individu lain.
Teori koneksionisme menyebutkan pula konsep transfer
of training, yaiyu kecakapan yang telah diperoleh dalam belajar dapat
digunakan untuk memecahkan masalah yang lain. Perkembangan teorinya berdasarkan
pada percobaan terhadap kucing dengan problem box-nya.
2.
Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936).
Ivan Petrovich Pavlov lahir 14 September 1849 di
Ryazan Rusia yaitu desa tempat ayahnya Peter Dmitrievich Pavlov menjadi seorang
pendeta. Ia dididik di sekolah gereja dan melanjutkan ke Seminari Teologi.
Pavlov lulus sebagai sarjan kedokteran dengan bidang dasar fisiologi. Pada
tahun 1884 ia menjadi direktur departemen fisiologi pada institute of
Experimental Medicine dan memulai penelitian mengenai fisiologi pencernaan.
Ivan Pavlov meraih penghargaan nobel pada bidang Physiology or Medicine tahun
1904. Karyanya mengenai pengkondisian sangat mempengaruhi psikology
behavioristik di Amerika. Karya tulisnya adalah Work of Digestive Glands(1902)
dan Conditioned Reflexes(1927).
Classic conditioning ( pengkondisian
atau persyaratan klasik) adalah proses yang ditemukan Pavlov melalui
percobaanny terhadap anjing, dimana perangsang asli dan netral dipasangkan
dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi
yang diinginkan.
Eksperimen-eksperimen yang dilakukan
Pavlov dan ahli lain tampaknya sangat terpengaruh pandangan behaviorisme,
dimana gejala-gejala kejiwaan seseorang dilihat dari perilakunya. Hal ini
sesuai dengan pendapat Bakker bahwa yang paling sentral dalam hidup manusia
bukan hanya pikiran, peranan maupun bicara, melainkan tingkah lakunya. Pikiran mengenai tugas atau rencana baru akan mendapatkan
arti yang benar jika ia berbuat sesuatu (Bakker, 1985).
Bertitik
tolak dari asumsinya bahwa dengan menggunakan rangsangan-rangsangan tertentu,
perilaku manusia dapat berubah sesuai dengan apa yang didinkan. Kemudian Pavlov
mengadakan eksperimen dengan menggunakan binatang (anjing) karena ia menganggap
binatang memiliki kesamaan dengan manusia. Namun demikian, dengan segala kelebihannya,
secara hakiki manusia berbeda dengan binatang.
Ia mengadakan percobaan dengan cara mengadakan operasi
leher pada seekor anjing. Sehingga kelihatan kelenjar air liurnya dari luar.
Apabila diperlihatkan sesuatu makanan, maka akan keluarlah air liur anjing
tersebut. Kin sebelum makanan diperlihatkan, maka yang diperlihatkan adalah
sinar merah terlebih dahulu, baru makanan. Dengan sendirinya air liurpun akan
keluar pula. Apabila perbuatan yang demikian dilakukan berulang-ulang, maka
pada suatu ketika dengan hanya memperlihatkan sinar merah saja tanpa makanan
maka air liurpun akan keluar pula.
Makanan
adalah rangsangan wajar, sedang merah adalah rangsangan buatan. Ternyata kalau
perbuatan yang demikian dilakukan berulang-ulang, rangsangan buatan ini akan
menimbulkan syarat(kondisi) untuk timbulnys air liur pada anjing tersebut.
Peristiwa ini disebut: Reflek Bersyarat atau Conditioned Respons.
Pavlov
berpendapat, bahwa kelenjar-kelenjar yang lain pun dapat dilatih. Bectrev murid
Pavlov menggunakan prinsip-prinsip tersebut dilakukan pada manusia, yang
ternyata diketemukan banyak reflek bersyarat yang timbul tidak disadari
manusia.
Dari eksperimen Pavlov setelah pengkondisian atau
pembiasaan dpat diketahui bahwa daging yang menjadi stimulus alami dapat
digantikan oleh bunyi lonceng sebagai stimulus yang dikondisikan. Ketika
lonceng dibunyikan ternyata air liur anjing keluar sebagai respon yang
dikondisikan.
Apakah
situasi ini bisa diterapkan pada manusia? Ternyata dalam kehidupan sehar-jhari
ada situasi yang sama seperti pada anjing. Sebagai contoh, suara lagu dari
penjual es krim Walls yang berkeliling dari rumah ke rumah. Awalnya mungkin
suara itu asing, tetapi setelah si pejual es krim sering lewat, maka nada lagu
tersebut bisa menerbitkan air liur apalagi pada siang hari yang panas.
Bayangkan, bila tidak ada lagu trsebut betapa lelahnya si penjual
berteriak-teriak menjajakan dagangannya. Contoh lai adalah bunyi bel di kelas
untuk penanda waktu atau tombol antrian di bank. Tanpa disadari, terjadi proses
menandai sesuatu yaitu membedakan bunyi-bunyian dari pedagang makanan(rujak,
es, nasi goreng, siomay) yang sering lewat di rumah, bel masuk kelas-istirahat
atau usai sekolah dan antri di bank tanpa harus berdiri lama.
Dari contoh
tersebut dapat diketahui bahwa dengan menerapkan strategi Pavlov ternyata
individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan
stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan,
sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang
berasal dari luar dirinya.
3. Burrhus Frederic Skinner (1904-1990).
Seperti halnya
kelompok penganut psikologi modern, Skinner mengadakan pendekatan behavioristik
untuk menerangkan tingkah laku. Pada tahun 1938, Skinner menerbitkan bukunya
yang berjudul The Behavior of Organism. Dalam perkembangan psikologi belajar,
ia mengemukakan teori operant conditioning. Buku itu menjadi inspirasi
diadakannya konferensi tahunan yang dimulai tahun 1946 dalam masalah “The
Experimental an Analysis of Behavior”.
Hasil konferensi dimuat dalam jurnal berjudul Journal of the
Experimental Behaviors yang disponsori oleh Asosiasi Psikologi di Amerika
(Sahakian,1970)
B.F. Skinner
berkebangsaan Amerika dikenal sebagai tokoh behavioris dengan pendekatan model
instruksi langsung dan meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses operant
conditioning. Di mana seorang dapat mengontrol tingkah laku organisme
melalui pemberian reinforcement yang bijaksana dalam lingkungan relatif besar.
Dalam beberapa hal, pelaksanaannya jauh lebih fleksibel daripada conditioning
klasik. Gaya mengajar guru dilakukan dengan beberapa pengantar dari guru secara
searah dan dikontrol guru melalui pengulangan dan latihan.
Menajemen Kelas
menurut Skinner adalah berupa usaha untuk memodifikasi perilaku antara lain
dengan proses penguatan yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang diinginkan
dan tidak memberi imbalan apapun pada perilaku yanag tidak tepat. Operant
Conditioning adalah suatu proses perilaku operant ( penguatan positif atau negatif)
yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau
menghilang sesuai dengan keinginan.
Skinner membuat eksperimen sebagai berikut :
Dalam laboratorium
Skinner memasukkan tikus yang telah dilaparkan dalam kotak yang disebut “skinner
box”, yang sudah dilengkapi dengan berbagai peralatan yaitu tombol, alat
pemberi makanan, penampung makanan, lampu yangdapat diatur nyalanya, dan lantai
yanga dapat dialir listrik. Karena dorongan lapar tikus beruasah keluar untuk
mencari makanan. Selam tikus bergerak kesana kemari untuk keluar dari box,
tidak sengaja ia menekan tombol, makanan keluar. Secara terjadwal diberikan
makanan secara bertahap sesuai peningkatan perilaku yang ditunjukkan si tikus,
proses ini disebut shapping.
Berdasarkan berbagai
percobaannya pada tikus dan burung merpati Skinner mengatakan bahwa unsur
terpenting dalam belajar adalah penguatan. Maksudnya adalah pengetahuan yang
terbentuk melalui ikatan stimulus respon akan semakin kuat bila diberi
penguatan. Skinner membagi penguatan ini menjadi dua yaitu penguatan positif
dan penguatan negatif. Bentuk bentuk penguatan positif berupa hadiah, perilaku,
atau penghargaan. Bentuk bentuk penguatan negatif antara lain menunda atau
tidak memberi penghargaan, memberikan tugas tambahan atau menunjukkan perilaku
tidak senang.
Beberapa prinsip Skinner antara lain :
- Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan, jika bebar diberi penguat.
- Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar.
- Materi pelajaran, digunakan sistem modul.
- Dalam proses pembelajaran, tidak digunkan hukuman. Untuk itu lingkungan perlu diubah, untukmenghindari adanya hukuman.
- dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktifitas sendiri.
- Tingkah laku yang diinginkan pendidik, diberi hadiah, dan sebaiknya hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variabel Rasio rein forcer.
- Dalam pembelajaran digunakan shaping.
4. Robert Gagne ( 1916-2002).
Gagne adalah seorang psikolog pendidikan
berkebangsaan amerika yang terkenal dengan penemuannya berupa condition of
learning. Gagne pelopor dalam
instruksi pembelajaran yang dipraktekkannya dalam training pilot AU Amerika. Ia
kemudian mengembangkan konsep terpakai dari teori instruksionalnya untuk
mendisain pelatihan berbasis komputer dan belajar berbasis multi media. Teori
Gagne banyak dipakai untuk mendisain software instruksional.
Gagne disebut
sebagai Modern Neobehaviouris mendorong guru untuk merencanakan instruksioanal
pembelajaran agar suasana dan gaya belajar dapat dimodifikasi. Ketrampilan paling
rendah menjadi dasar bagi pembentukan kemampuan yang lebih tinggi dalam
hierarki ketrampilan intelektual. Guru harus mengetahui kemampuan dasar yang
harus disiapkan. Belajar dimulai dari hal yang paling sederhana
dilanjutnkanpada yanglebih kompleks ( belajar SR, rangkaian SR, asosiasi
verbal, diskriminasi, dan belajar konsep) sampai pada tipe belajar yang lebih
tinggi(belajar aturan danpemecahan
masalah). Prakteknya gaya belajar tersebut tetap mengacu pada asosiasi
stimulus respon.
5. Albert Bandura (1925-masih hidup).
Bandura lahir pada tanggal 4 Desember 1925 di
Mondare alberta berkebangsaan Kanada. Ia
seorang psikolog yang terkenal dengan teori belajar sosial atau kognitif sosial
serta efikasi diri. Eksperimennya yang sangat terkenal adalah eksperimen Bobo
Doll yang menunjukkan anak meniru secara persis perilaku agresif dari orang
dewasa disekitarnya.
Faktor-faktor yang berproses dalam belajar observasi
adalah:
1.
Perhatian,
mencakup peristiwa peniruan dan karakteristik pengamat.
2.
Penyimpanan
atau proses mengingat, mencakup kode pengkodean simbolik.
3.
Reprodukdi
motorik, mencakup kemampuan fisik, kemampuan meniru, keakuratan umpan balik.
4.
Motivasi,
mencakup dorongan dari luar dan penghargaan terhadap diri sendiri.
Selain itu juga harus diperhatikan bahwa faktor
model atau teladan mempunyai prinsip prinsip sebgai berikut:
1.
Tingkat
tertinggi belajar dari pengamatan diperoleh dengan cara mengorganisasikan sejak
awal dan mengulangi perilaku secara simbolik kemudian melakukannya.
2.
Individu
lebih menyukai perilaku yang ditiru jika sesuai dengan nilai yang dimilikinya.
3.
Individu
akan menyukai perilaku yang ditiru jika model atau panutan tersebut disukai dan
dihargai dan perilakunya mempunyai nilai yang bermanfaat.
Karena melibatkan atensi, ingatan dan motifasi, teori
Bandura dilihat dalam kerangka Teori Behaviour Kognitif. Teori belajar sosial
membantu memahami terjadinya perilaku agresi dan penyimpangan psikologi dan bagaimana
memodifikasi perilaku.
Teori Bandura
menjadi dasar dari perilaku pemodelan yang digunakan dalam berbagai pendidikan
secara massal.
B. Aplikasi Teori Behavioristik terhadap Pembelajaran Siswa
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan teori behavioristik adalah ciri-ciri kuat yang mendasarinya yaitu:
a. Mementingkan
pengaruh lingkungan
b. Mementingkan
bagian-bagian
c. Mementingkan
peranan reaksi
d. Mengutamakan
mekanisme terbentuknya hasil belajar melalui prosedur stimulus respon
e.
Mementingkan
peranan kemampuan yang sudah terbentuk sebelumnya
f.
Mementingkan
pembentukan kebiasaan melalui latihan dan pengulangan
g.
Hasil
belajar yang dicapai adalah munculnya perilaku yang diinginkan.
Sebagai konsekuensi
teori ini, para guru yang menggunakan paradigma behaviorisme akan menyusun
bahan pelajaran dalam bentuk yang sudah siap, sehingga tujuan pembelajaran yang
harus dikuasai siswa disampaikan secara utuh oleh guru. Guru tidak banyak
memberi ceramah, tetapi instruksi singkat yng diikuti contoh-contoh baik
dilakukan sendiri maupun melalui simulasi. Bahan pelajaran disusun secara
hierarki dari yang sederhana samapi pada yang kompleks.
Tujuan pembelajaran
dibagi dalam bagian kecil yang ditandai dengan pencapaian suatu ketrampilan
tertentu. Pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati.
Kesalahan harus segera diperbaiki. Pengulangan dan latihan digunakan supaya
perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan. Hasil yang diharapkan dari
penerapan teori behavioristik ini adalah tebentuknya suatu perilaku yang
diinginkan. Perilaku yang diinginkan mendapat penguatan positif dan perilaku
yang kurang sesuai mendapat penghargaan negatif. Evaluasi atau penilaian
didasari atas perilaku yang tampak. Kritik terhadap behavioristik adalah
pembelajaran siswa yang berpusat pada guru, bersifaat mekanistik, dan hanya
berorientasi pada hasil yang dapat diamati dan diukur. Kritik ini sangat tidak
berdasar karena penggunaan teori behavioristik mempunyai persyartan tertentu
sesuai dengan ciri yang dimunculkannya. Tidak setiap mata pelajaran bisa
memakai metode ini, sehingga kejelian dan kepekaan guru pada situasi dan kondisi
belajar sangat penting untuk menerapkan kondisi behavioristik. Metode
behavioristik ini sangat cocok untuk perolehan kemampaun yang membuthkan
praktek dan pembiasaan yang mengandung unsur-unsur seperti :
Kecepatan,
spontanitas, kelenturan, reflek, daya tahan dan sebagainya, contohnya:
percakapan bahasa asing, mengetik, menari, menggunakan komputer, berenang,
olahraga dan sebagainya. Teori ini juga cocok diterapkan untuk melatih
anak-anak yang masih membutuhkan dominansi peran orang dewasa, suka mengulangi
dan harus dibiasakan, suka meniru dan senang dengan bentuk-bentuk penghargaan
langsung seperti diberi permen atau pujian.
Penerapan teori
behaviroristik yang salah dalam suatu situasi pembelajaran juga mengakibatkan
terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi siswa yaitu
guru sebagai central, bersikap otoriter, komunikasi berlangsung satu arah, guru
melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari murid. Murid dipandang pasif ,
perlu motivasi dari luar, dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan
guru. Murid hanya mendengarkan denga tertib penjelasan guru dan menghafalkan
apa yang didengar dan dipandang sebagai cara belajar yang efektif. Penggunaan
hukuman yang sangat dihindari oelh para tokoh behavioristik justru dianggap
metode yang paling efektif untuk menertibkan siswa.
1.3
TEORI BELAJAR KOGNITIF
Aliran teori
belajar kognitif berupaya mendeskripsikan apa yang terjadi dalam diri seseorang
ketika ia belajar.Teori ini lebih menaruh perhatian pada peristiwa-peristiwa internal
.Belajar adalah proses pemaknaan informasi dengan jalan mengkaitkannya dengan
struktur informasi yang telah dimiliki.peristiwa belajar yang di alami manusia
bukan semata-mata malasalah respon terhadap stimulus (Rangsangan),melainkan
adanya pengukuran dan pengarahan diri yang di kontrol oleh otak.
Dalam aliran
kogniti,penataan kondisi bukan penyembab terjadinya belajar,melainkan sekedar
memudahkan belajar.Keaktifan individu dalam belajar menjadi unsur yang sangat
penting dan menentukan kesuksesan belajar.munculnya cara belajar siswa aktif
(CBSA),Ketrampilan proses,dan penekanan pada berfikir produktif merupakan bukti
bahwa teori ini merabah praktik pembelajaran.
A. Pemahaman
Pencerahan (INSIGHT)
Menurut aliran Gesalt,kegiatan belajar menggunakan
pemahaman terhadap hubungan-hubungan,terutama hubungan antar – bagian dan
keseluruhan.Tingkat kejelasan yang di amati dalam situasi belajar adalah lebih
meningkatkan belajar seseorang dari pada hukuman dan ganjaran.
Orang
yang dipandang di dapatkan pemecahan problemyang merupakan inti belajar .Jadi
,yang terpenting bukanlah mengulang-ulang hal yang harus dipelajari,melainkan
mengertinya,mendapatkan insight. Ada enam macam sifat khas belajar dengan
insight sebagai berikut ;
1. Insight tergantung atas kemampuan dasar.perbedaan
individual dalam hal kemampuan dasar antara individu yang satu dengan individu
yang lain.masa anak-anak umumnya masih sangat sukar untuk belajar.
2. Insight melalui didahului oleh periode
mencoba-coba,sebelum dapat memperoleh Insight,orang harus sudah meninjau
problemanya di berbagai arah dan mencoba memecahkannya.
3. Pengalaman masa lampau seseorang yang relevan
mempengaruhi Insight seseorang.
4. Belajar dengan Insight dapat dilakukan berulang-ulang (
Repetition)
5. Insight dapat digunakan untuk menghadapi situasi-situasi
baru.
6. Insight terjadi apabila situasi belajar di kondisikan
sedemikian rupa melalui pengaturan secara eksperimental.
B. Teori
belajar dari Kurt Lewin
Menurut teori Kurt
Lewin,adanya situasi tidak memberikan motor penggerak bagi aktifitas
mental,menurutnya,akan selalu ada tegangan yang perlu ada pada setiap
aktivitas.belajar belangsung akibat dari
perubahan dalam struktur kognitif.perubahan tersebut hasil dari dua macam
kekuatan,satu dari medan kognisi dan yang lainnya dari kebutuhan dan motivasi
internal individu.Motivasi memiliki peran penting dalam pembelajaran dari
hadiah dan hukuman.
Kurt
Lewin menggambarkan situasi yang mengandung hadiah atau hukumanitu situasi yang
mengandung konflik.Belajar di artikan sebagai perubahan dalam struktur
kognitif.Apabila ia belajar ,maka akan bertambah pengetahuannya.
Perubahan
struktur kognitif ( Pengetahuan) dapat terjadi karena pengulangan situasi perlu
di ulang-ulang dalam strukturnya berubah.Hal yang terpenting bukanlah ulangan
itu terjadi,melainkan struktur kognitif yang berubah.Terbukti daya eksperimen
mengenai Insight bahwa terlalu banyak ulangan tidak menambah belajar,sebaliknya
mungkin menyebabkan kejenuhan psikologis yang menyebabkan kekaburan dalam
struktur kognitif.
Pengalama
dalam belajar merupakan ciri perubahan kognitif.Struktur konitif itu juga
berubah ubah sesuai dengan kebutuhan yang ada pada individu.Kekuatan psikologis
yang bersangkutan dengan suatu kebutuhan dapat berakibat salah satu diantara
dua keadaan berikut ;
1. Locomotion dalam arah kekuatan itu dipuaskan dengan jalan
biasa,belajar yang baru tidak perlu lagi,dan striktur kognitif tetap baik.
2. Perubahan dalam struktur kognitif.locomotion dimungkinkan
artinya hubungan- hubungan dalam situasi dilihat denganpendangana (cara)baru
sehingga kebutuhan dapat di puaskan.
Perkembangan kognitif dan bahasa anak-anak tidak
berkembang dalam suatu situasi sosial yang hampa. Lev Vygotsky (1896-1934),
seorang psikolog berkebangsaan Rusia, mengenal poin penting tentang pikiran
anak ini lebih dari setengah abad yang lalu. Teori Vygotsky mendapat perhatian
yang makin besar ketika memasuki akhir abad ke-20. Sezaman dengan Piaget,
Vygotsky menulis di Uni Soviet selama 1920-an dan 1930-an. Namun, karyanya baru
dipublikasikan di dunia Barat pada tahun 1960-an. Sejak saat itulah,
tulisan-tulisannya menjadi sangat berpengaruh. Vygotsky adalah pengagum Piaget.
Walaupun setuju dengan Piaget bahwa perkembangan kognitif terjadi secara
bertahap dan dicirikan dengan gaya berpikir yang berbeda-beda, tetapi Vygotsky
tidak setuju dengan pandangan Piaget bahwa anak menjelajahi dunianya sendirian
dan membentuk gambaran realitas batinnya sendiri.
Pendekatan konstruktivisme pada pendidikan berusaha
merubah pendidikan dari dominasi guru menjadi pemusatan pada siswa. Peranan
guru adalah membantu siswa mengembangkan pengertian baru. Siswa diajarkan
bagaimana mengasimilasi pengalamn, pengetahuan, dan pengertiannya dan apakah
mereka siap untuk tahu dari pembentukan pengertian baru ini. Pada bagian ini,
kita melihat permulaan aliran konstruktivisme, peranan pengalaman siswa dalam
belajar dan bagaiman dapat mengasimilasi pengertiannya.
Konstruktivisme adalah suatu teori belajar yang
mempunyai suatu pedoman dalam filosofi dan antropologi sebaik psikologi.
Pedoman filosofi pada teori ni ditemukan pada abad ke-5 sebelum masehi. Ketika
Socrates memajukan pemikiran dari level sophist oleh metode perkembangan
sistematis yang ditemukan melalui gabungan antara pertanyaan dan alasan logika.
Metode baru ini yang mengkontribusi secara besar-besaran untuk memajukan aspek
pemecahan masalah aliran konstruktivisme. Penyelidikan atau pengalaman fisik,
pengalaman pendidikan adalah kunci metode konstruktivisme. Selama abad ke-18
dan ke-17, filosof Inggris ” Frances Bacon” memberikan ilmu metode untuk
menyelidiki lingkungan.Pendukung konstruktivisme percaya bahwa pengalaman
melalui lingkungan, kita akan mengikat informasi yang kita peroleh dari
pengalaman ini ke dalam pengertian sebelumnya, membentuk pengertian baru.
Dengan kata lain, pada proses belajar masing-masing pelajar harus mengkreasikan
pengetahuannya. Pada konstruktivis, kegiatan mengajar adalah proses membantu
pelajar-pelajar mengkreasikan pengetahuannya. Konstruktivisme percaya bahwa
pengetahuan tidak hanya kegiatan penemuan yang memungkinkan untuk dimengerti,
tetapi pengetahuan merupakan cara suatu informasi baru berinteraksi dengan
pengertian sebelumnya dari pelajar.
Para konstruktivisme menekankan peranan motivasi
guru untuk membantu siswa belajar mencintai pelajaran. Tidak seprti
behaviorist, yang menggunakan sangsi berupa reward, sedangkan konstruktivisme
percaya bahwa motivasi internal, seperti kesenangan pada pelajaran lebih kuat
daripada reward eksternal. Konstruktivisme
yang mempunyai pengaruh besar pada tahun 1930 yang bekerja sebagai ahli
Psikologi Rusia adalah L.S. Vygotsky, yang sangat tertarik pada efek interaksi
siswa dengan teman sekelas pada pelajaran. Jaramillo (1996) menjelaskan,
Vygotsky mencatat bahwa interaksi individu dengan orang lain berlangsung pada
situasi sosial. Vygotsky percaya bahwa subyek yang dipelajari berpengaruh pada
proses belajar, dan mengakui bahwa tiap-tiap disiplin ilmu mempunyai metode
pembelajaran tersendiri. Kritikus yang pertama dan terbaik atas
Piaget adalah Vygotsky, ahli pendidikan Uni Sovyet itu, yang di masa-masa
1924-34 mengerjakan satu alternatif yang konsisten dengan ide-ide Piaget.
Tragisnya, ide-ide Vygotsky baru diterbitkan di Uni Sovyet setelah kematian
Stalin, dan baru dikenal di Barat di tahun 1950-an dan 60-an, ketika ide-ide
ini mempengaruhi banyak orang, seperti Jerome Bruner. Pada masa ini, ide-ide
itu telah diterima luas di kalangan ahli pendidikan.
C. APLIKASI
TEORI VYGOTSKY DALAM PENDIDIKAN
Karya Vygotsky didasarkan pada tiga ide utama:
1. Bahwa
intelektual berkembang pada saat individu menghadapi ide-ide baru dan sulit
mengaitkan ide-ide tersebut dengan apa yang mereka telah ketahui;
2. Bahwa
interaksi dengan orang lain memperkaya perkembangan intelektual;
3. Peran
utama guru adalah bertindak sebagai seorang pembantu dan mediator pembelajaran
siswa (Nur, 2000b: 10).
Ciri-ciri pembelajaran dalam pandangan kognitif
(Sugihartono,dkk, 2007:115) adalah sebagai berikut:
1. Menyediakan
pengalaman belajar dengan mengaitkan pengetahuan yang telah dimiliki siswa
sedemikian rupa sehingga belajar melalui proses pembentukan pengetahuan.
2. Menyediakan
berbagai alternatif penglaman belajar, tidak semua mengerjakan tugas yang sama,
misalnya suatu masalah dapat diselesaikan dengan berbagai cara.
3. Mengintegrasikan
pembelajaran dengan situasi yang realistic dan relevan dengan melibatkan
pengalaman konkrit, misalnya untuk memahami suatu konsep siswa melalui
kenyataan kehidupan sehari-hari.
4. Mengintegrasikan
pembelajaran sehingga memungkinkan terjadinya transmisi social, yaitu
terjadinya interaksi dan kerja sama seseorang dengan orang lain atau dengan
lingkungannya, misalnya interaksi dan kerja sama antara siswa, guru, dan
siswa-siswa.
5. Memanfaatkan
berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis sehingga pembelajarn
lebih efektif.
6. Melibatkan
siswa secara emosional dan social sehingga siswa menjadi tertarik dan mau
belajar.
Sumbangan psikologi kognitif berakar
dari teori-teori yang menjelaskan bagaimana otak bekerja dan bagaimana individu
memperoleh dan memproses informasi. Pandangan yang ditawarkan Vygotsky dan para
ahli psikologi kognitif yang lebih mutakhir adalah penting dalam memahami
penggunaan-penggunaan strategi belajar karena tiga alasan. Pertama, mereka
menggaris bawahi peran penting pengetahuan awal dalam proses belajar. Dua,
mereka membantu kita memahami pengetahuan dan perbedaan antara berbagai jenis
pengetahuan. Dan tiga, mereka membantu menjelaskan bagaimana pengetahuan
diperoleh manusia dan diproses dalam sistem memori otak.
Para ahli psikologi kognitif menyebut
informasi dan pengalaman yang disimpan dalam memori jangka panjang sebagai
pengetahuan awal. Pengetahuan awal (prior
knowledge) merupakan kumpulan dari pengetahuan dan pengalaman individu yang
diperoleh sepanjang perjalanan hidup mereka, dan apa yang ia bawa kepada suatu
pengalaman baru.
Penggunaan pengorganisasian awal (advance organizer) merupakan suatu alat
pengajaran yang direkomendasikan oleh Ausubel (1960) dalam Nur (2000b: 13)
untuk mengaitkan bahan-bahan pembelajaran dengan pengetahuan awal.
Pembelajaran melibatkan perolehan isyarat melalui pengajaran dan informasi dari orang lain.
Pembelajaran melibatkan perolehan isyarat melalui pengajaran dan informasi dari orang lain.
Perkembangan termasuk internalisasi atau
penyerapan isyarat-isyarat sehingga anak-anak dapat berpikir dan memecahkan
masalah tanpa bantuan orang lain. Internalisasi ini disebut pengaturan diri (self regulation).
Langkah pertama dari pengaturan diri dan
pemikiran mandiri adalah mempelajari bahwa segala sesuatu memiliki makna.
Langkah kedua dalam pengembangan struktur-struktur internal dan pengaturan diri
adalah latihan. Siswa berlatih gerak-gerak isyarat yang akan mendatangkan
perhatian. Kemudian langkah terakhir termasuk penggunaan isyarat dan memecahkan
masalah tanpa bantuan orang lain.
D.
Penjabarkan
implikasi utama teori pembelajarannya yaitu:
1. Menghendaki
setting kelas kooperatif, sehingga siswa dapat saling berinteraksi dan saling
memunculkan strategi-strategi pemecahan masalah yang efekif dalam masng-masing zone of proximal development mereka.
2. Pendekatan
Vygotsky dalam pembelajaran dalam menekankan scaffolding. Jadi teori belajar vigotsky adalah salah satu teori
belajar social sehingga sangat sesuai dengan model pembelajaran kooperatif
karena dalam model pembelajaran kooperatif terjadi interaktif social yaitu
interaksi antara siswa dengan siswa dan antara siswa dengan guru dalam usaha
menemukan konsep-konsep dan pemecahan masalah. Pengaruh karya Vygotsky bersama
Burner terhadap dunia pengajaran dijabarkan oleh Smith :
1. Walaupun
Vygotsky dan Burner telah mengusulkan peranan yang lebih penting bagi orang
dewasa dalam pembelajaran anak-anak dari pada peran yang diusulkan Peaget,
keduanya tidak mendukung pengajaran diaktivis diganti sepenuhnya. Sebaliknya
mereka malah menyatakan walaupun anak dilibatkan dalam pembelajaran aktif, guru
harus aktif mendampingi setiap kegiatan anak-anak. Dalam istilah teoristis ini
berarti anak-anak bekerja dalam zona perkembangan proksimal dan guru
menyediakan scaffolding bagi anak.
2. Secara
khusus Vygotsky mengemukakan bahwa disamping guru, teman sebaya juga
berpengaruh pada perkembangan kognitif anak. Berlawanan dengan pembelajaran
lewat penemuan individu (individual
discovery learning) kerja kelompok secara kooperatif tampaknya mempercepat
perkembangan anak.
3. Gagasan
tentang kelompok kerja kreatif ini diperluas menjadi pengajaran pribadi oleh
teman sebaya, yaitu seorang anak mengajari anak lainnya yang agak tertinggal
didalam pelajaran. Foot et al, menjelaskan pengajaran oleh teman sebaya ini
dengan menggunakan teori vygotsky. Satu anak bisa lebih efektif membimbing anak
lainnya melewati ZPD karena mereka sendiri baru saja melewati tahap itu
sehingga bisa dengan mudah melihat kesulitan-kesulitan yang dihadapi anak lain
dan menyediakan scaffolding yang
sesuai.
Komputer juga dapat digunakan untuk
meningkatkan pembelajaran dalam berbagai cara. Dalam prespektif pengikut
vygotsky - bruner, perintah-perintah dilayar komputer merupakan scaffolding.
Ketika anak menggunakan perangkat lunak atau software pendidikan, komputer menggunakan bantuan atau petunjuk
scara detail seperti yang diisyaratkan sesuai kedudukan anak dalam ZPD. Tidak
dipungkiri lagi beberapa anak dikelas lebih terampil dalam menggunakan computer
sebagai tutor bagi teman sebayanya. Dengan murid-murid yang bekerja dengan
komputer guru bisa bebas mencurahkan perhatiannya kepada individu-individu yang
memerlukan bantuan dan menyiapkan scaffolding
yang sesuai bagi masing-masing anak.
Teori pembelajaran Vygossky juga dapat
kita gunakan sebagai salah satu teori di dalam model cooperative learning.
Menurut Suparno (1997), pembelajaran
merupakan suatu per-kembangan pengertian. Dia membedakan adanya dua pe-ngertian
pembelajaran yaitu, yang spontan dan yang ilmiah. Pengertian spontan adalah pengertian
yang didapati secara terus dan pengalaman siswa didapati dalam kehidupan
seharian. Pengertian ilmiah adalah pengertian yang diperoleh di sekolah.
Selanjutnya, Suparno (1997) mengatakan kedua-dua konsep itu saling berkaitan
terus menerus. Apa yang dihadapi siswa di sekolah mempengaruhi perkembangan
konsep yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari dan sebaliknya.
Sumbangan teori Vigotsky adalah
penekanan pada bakat sosio budaya dalam pembelajaran. Menurutnya, pembelajaran
terjadi ketika siswa bekerja dalam zona perkembangan proksima (zone of proximal development). Zon
perkembangan proksima adalah tingkat perkembangan sedikit di atas tingkat
perkembangan seseorang pada ketika pembelajaran berlaku?
Astuty (2000) secara terperinci,
mengemukakan bahwa yang dimaksudkan dengan “zon per-kembangan proksima” adalah
jarak antara tingkat per-kembangan sesungguhnya dengan tingkat perkembangan
potensial. Tingkat perkembangan sesungguhnya adalah kemampuan pemecahan masalah
secara mandiri sedangkan tingkat per-kembangan potensial adalah kemampuan
pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa melalui kerja sama dengan
rakan sebaya yang lebih mampu. Oleh yang demkian, maka tingkat
perkembangan potensial dapat disalurkan melalui model pembelajaran koperatif.
Ide penting lain juga diturunkan Vygotsky ialah konsep pemenaraan (scaffolding) (Nur 2000), yaitu
memberikan sejumlah bantuan kepada siswa pada tahap-tahap awal pembelajaran,
kemudian menguranginya dan memberi kesempatan kepada siswa untuk mengambil alih
tanggung jawab sekadar yang mereka mampu. Bantuan tersebut berupa
petunjuk, peringatan, dorongan, menguraikan masalah pada langkah-langkah
pemecahan, memberi contoh ataupun hal-hal lain yang memungkinkan siswa tumbuh
kendiri.
Dalam teori Vygotsky dijelaskan bahwa
ada hubungan secara langsung antara domain kognitif dengan sosio budaya.
Kualiti berfikir siswa dibina dan aktivitas sosial siswa di dalam bilik darjah,
dikembangkan dalam bentuk kerjasama antara siswa dengan siswa lainnya yang
lebih mampu di bawah bimbingan orang dewasa dan guru.
Di Indonesia, program penelusuran bakat
dan minat yang dikembangkan oleh beberapa universitas negeri dan swasta adalah
salah satu bagian yang tak terpisahkan dengan pandangan Vygotsky yang melihat
umur bukanlah hal yang sangat prinsipil dalam mengembangkan kreativitas anak.
Eskalasi mengandung pengertian
penanjakan kehidupan mental, sedangkan akselerasi, acceletion, secara singkat diterjemahkan percepatan (Semiawan,
2002). Lebih jauh, Semiawan (1997) membagi pengertian akselerasi ke dalam dua
bagian. Pertama, akselerasi sebagai model pelayanan pembelajaran. Kedua,
akselerasi kurikulum atau akselerasi program.
Pengertian yang pertama dapat dijalankan
dengan memberikan kesempatan yang sebesar-besarnya kepada anak berbakat untuk
melompat ke tingkat yang lebih tinggi. Misalnya, seorang anak kelas II SD
memiliki kemampuan lebih tinggi pada mata pelajaran matematika.
Setelah diberikan tes kemampuan ternyata
anak itu memiliki kemampuan yang sama dengan kemampuan anak yang berada di kelas
III SD, maka anak tersebut diberi kesempatan untuk duduk di kelas III SD khusus
untuk mata pelajaran matematika dan tetap berada di kelas II SD untuk mata
pelajaran lainnya. Sedangkan pengertian yang kedua dapat dijalankan dengan
melakukan peringkasan program.
Misalnya, program yang sebenarnya
ditempuh dalam waktu empat bulan dapat dipercepat menjadi satu bulan tanpa
mengubah kualitas isi yang diberikan. Di sisi lain, program eskalasi dapat
dijalankan dengan memberikan pengayaan materi yang memperhatikan fleksibilitas
dan keterampilan berpikir kritis dan kreatif.
Seperti dalam program akselerasi,
program pengayaan dapat dilakukan secara horizontal dan vertikal. Pengayaan
horizontal mengandung pengertian kesejajaran tingkat pengayaan yang diberikan
kepada kelas yang sama, sedangkan pengayaan vertikal dapat dijalankan dengan
memberikan pengayaan pada kelas yang lebih tinggi.
Penelitian mutakhir telah menunjukkan
bahwa bayi lebih banyak memiliki kemampuan pada usia-usia awal ketimbang
anggapan Piaget. Idenya tentang bayi yang masih sangat muda kelihatannya telah
terbantahkan, namun banyak ide-ide lainnya yang tetap sahih. Karena Piaget
memiliki latar belakang ilmu biologi tidaklah mengherankan kalau ia lebih
menekankan pada aspek biologis dari perkembangan anak. Vygotsky mendekati
permasalahan itu dari sudut yang berbeda, tapi tentu saja masih terdapat
persamaan-persamaan di antara mereka. Contohnya, dalam telaahnya atas
tahun-tahun pertama masa kanak-kanak, ia membahas "pikiran
non-linguistik" seperti yang dijelaskan Piaget dalam uraiannya tentang
"aktivitas sensomotorik" seperti penggunaan satu alat untuk
menjangkau mainan yang ada di seberang.
Bersejajaran dengan ini, kita mendapati
juga bunyi-bunyian yang diobrolkan oleh seorang bayi ("omongan
bayi"). Ketika dua unsur ini disatukan, terjadilah perkembangan bahasa
yang eksplosif. Untuk tiap pengalaman baru, si kecil ingin mengetahui nama yang
dapat diasosiasikan pada pengalaman itu. Walaupun Vygotsky mengambil rute yang
berbeda, jalurnya telah dirintis oleh Piaget.
Vygotsky memberikan pandangan berbeda
dengan Piaget terutama pandangannya tentang pentingnya faktor sosial dalam
perkembangan anak. Vygotsky memandang pentingnya bahasa dan orang lain dalam
dunia anak-anak. Meskipun Vygotsky dikenal sebagai tokoh yang memfokuskan
kepada perkembangan sosial yang disebut sebagai sosiokultural, dia tidak
mengabaikan individu atau perkembangan kognitif individu.
Perkembangan bahasa pertama anak tahun
kedua di dalam hidupnya dipercaya sebagai pendorong terjadinya pergeseran dalam
perkembangan kognitifnya. Bahasa memberi anak sebuah alat baru sehingga memberi
kesempatan baru kepada anak untuk melakukan berbagai hal, untuk menata
informasi dengan menggunakan simbol-simbol. Anak-anak sering terlihat berbicara
sendiri dan mengatur dirinya sendiri ketika ia berbuat sesuatu atau bermain.
Ini disebut sebagai private speech. Ketika anak menjadi semakin besar,
bicaranya semakin lirih, dan mulai membedakan mana kegiatan bicara yang
ditujukan ke orang lain dan mana yang ke dirinya sendiri.
Yang mendasari teori Vygtsky adalah
pengamatan bahwa perkembangan dan pembelajaran terjadi di dalam konteks sosial,
yakni di dunia yang penuh dengan orang yang berinteraksi dengan anak sejak anak
itu lahir. Ini berbeda dengan Piaget yang memandang anak sebagai pembelajar
yang aktif di dunia yang penuh orang. Orang-orang inilah yang sangat berperan
dalam membantu anak belajar dengan menunjukkan benda-benda, dengan berbicara
sambil bermain, dengan membacakan ceritera, dengan mengajukan pertanyaan dan sebagainya.
Dengan kata lain, orang dewasa menjadi perantara bagi anak dan dunia
sekitarnya.
Belajar lewat instruksi dan perantara
adalah ciri inteligensi manusia. Dengan pertolongan orang dewasa, anak dapat
melakukan dan memahami lebih banyak hal dibandingkan dengan jika anak hanya
belajar sendiri. Konsep inilah yang disebut Vygotsky sebagai Zone of Proximal Development (ZPD). ZPD
memberi makna baru terhadap ‘kecerdasan’. Kecerdasan tidak diukur dari apa yang
dapat dilakukan anak dengan bantuan yang semestinya. Belajar melakukan sesuatu
dan belajar berpikir terbantu dengan berinteraksi dengan orang dewasa.
Menurut
Vygotsky, pertama-tama anak melakukan segala sesuatu dalam konteks sosial
dengan orang lain dan bahasa membantu proses ini dalam banyak hal. Lambat laun,
anak semakin menjauhkan diri dari ketergantungannya kepada orang dewasa dan
menuju kemandirian bertindak dan berpikir. Pergeseran dari berpikir dan
berbicara nyaring sambil melakukan sesuatu ke tahap berpikir dalam hati tanpa
suara disebut internalisasi. Menurut Wretsch (dalam Helena, 2004) internalisasi
bagi Vygotsky bukanya transfer, melainkan sebuah transformasi. Maksudnya, mampu
berpikir tentang sesuatu yang secara kualitatif berbeda dengan mampu berbuat
sesuatu. Dalam proses internalisasi, kegiatan interpersonal seperti
bercakap-cakap atau berkegiatan bersama, kemudian menjadi interpersonal, yaitu
kegiatan mental yang dilakukan oleh seorang individu.
BAB
III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari penjelasan tentang macam-macam teori belajar maka
saya dapat menyimpulkan bahwa perbedaan Teori-teori tersebut adalah;
1.
Teori behaviorisme
Teori Proses
perubahan tingkah laku sebagai akibat adanya interaksi antara stimulus dan Respon.
Tujuan Adanya
perubahan pada peserta didik.
Metode Dibagi
dalam bagian-bagian
kecil sampai kompleks. Pengulangan dan latihan digunakan supaya perilaku yang
diinginkan dapat menjadi kebiasaan.berorientasi pada hasil yang dicapai, tidak
menggunakan hukuman.
Kekurangan *sentral,bersikap,otoriter,komunikadi satu
arah.
* Guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari siswa.
* Pasif, perlu motivasi dari luar, dan sangat dipengarihi oleh Penguatan yang diberikan oleh guru,mendengarkan dan menghafal
* Guru melatih dan menentukan apa yang harus dipelajari siswa.
* Pasif, perlu motivasi dari luar, dan sangat dipengarihi oleh Penguatan yang diberikan oleh guru,mendengarkan dan menghafal
Penerapan Pada mata pelajaran yang membutuhkan
praktek dan pembicaraan yang mengandung unsur-unsur kecepatan, spontanitas,
kelenturan, refleks, daya tahan, dan sebagainya. Misal dalam: percakapan bahasa
asing, mengetik, menari, olagraga,dll.
Guru :guru tidak banyak memberikan ceramah, tetapi instruksi singkat yang diikuti contoh-contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui simulasi.
Guru :guru tidak banyak memberikan ceramah, tetapi instruksi singkat yang diikuti contoh-contoh baik dilakukan sendiri maupun melalui simulasi.
Murid Melakukan sendiri apa yang
menjadi instruksi dan melakukannya berulang-ulang sampai hasilnya baik.
Evaluasi Didasarkan pada perilaku yang dicapai
sebagai hasil dari latihan yang dilakukan.
2.
Teori Belajar Humanistik
Teori Belajar
untuk memenusiakan manusia.
Tujuan Menunjuk pada ruh atau spirit
selama proses pembelajaran yang mewarnai metode-metode yang
diterapkan.
Metode Mengusahakan partisipasi aktif
siswa melalui kontrak belajar yang bersifat jelas ,jujur , dan positif.
Kekurangan Terlalu memberi kebebasan pada siswa.
Penerapan Materi-materi pembelajaran yang
bersifat pembentukan.
Guru Memberi motivasi,kesadaran
mengenai makna belajar dalam kehidupan siswa.
Siswa Pelaku utama (student center)
yang memaknai poses pengalaman belajar sendiri
Evaluasi Diberikan secara individual
berdasarkan perolehan prestasi siswa.
3.
Teori Belajar Kognitif
Tujuan Mendeskripsikan apa yang terjadi dalam diri seseorang
ketika belajar.
Teori Lebih
menaruh perhatian pada peristiwa-peristiwa internal.
Struktur Ciri
–ciri Pengalaman.
Adapun Manfaat dari
beberapa teori belajar terebut ialah :
1.
Membantu guru
untuk memahami bagaimana siswa belajar.
2. Membimbing guru untuk merancang dan merencanakan
proses pembelajaran,
3. Memandu guru untuk mengelola kelas,
4. Membantu guru untuk mengevaluasi proses, perilaku
guru sendiri serta hasil belajar siswa yang telah dicapai,
5. Membantu proses belajar lebih efektif, efisien dan
produktif,
6.
Membantu guru
dalam memberikan dukungan dan bantuan kepada siswa sehingga dapat mencapai
hasil prestasi yang maksimal.
Implikasi
perkembangan teori pembelajaran sekarang sangatlah beragam. Guru dapat
menerapkan menurut aliran-aliran teori tertentu. Seperti teori behavioristik
dalam pembelajaran guru memperhatikan tujuan belajar, karakteristik siswa, dan
sebagainya.
B.
Saran
Pengertian, prinsip, dan perkembangan teori pembelajaran hendaknya dipahami oleh para pendidik dan diterapkan dalam dunia pendidikan dengan benar, sehingga tujuan pendidikan akan benar-benar dapat dicapai. Dengan memahami berbagai teori belajar, prinsip-prinsip pembelajaran dan pengajaran, pendidikan yang berkembang di bangsa kita niscaya akan menghasilkan out put-out put yang
Pengertian, prinsip, dan perkembangan teori pembelajaran hendaknya dipahami oleh para pendidik dan diterapkan dalam dunia pendidikan dengan benar, sehingga tujuan pendidikan akan benar-benar dapat dicapai. Dengan memahami berbagai teori belajar, prinsip-prinsip pembelajaran dan pengajaran, pendidikan yang berkembang di bangsa kita niscaya akan menghasilkan out put-out put yang
DAFTAR
PUSTAKA
Baharuddin.2009.Pendidikan dan Psikilogi Perkembangan.Jogjakarta : Ar-Ruzz Media
Group.
http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_Belajar_Behavioristik. diakses tanggal 22 April 2012
http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_Belajar_Humanistik diakses tanggal 19 April 2012
http://id.wikipedia.org/wiki/Teori_Belajar_kognitif diakses
tanggal 19 April 2012.
http://anwarholil.blogspot.com/2008/04/Teori-Vygotsky diakses tanggal 15 April 2012
http://www.al-azhar.ac.id/konsep-vygotsky.html
diakses tanggal 15 April 2011.
http://blog.binadarma.ac.id/muhammadinah/?p=97 diakses tanggal 26
April 2012
Mustaqim dan Wahib Abdul.2003.Psikologi
Pendidikan.Jakarta ; Rineka Cipta.
Suyomukti,Nurani.2010.Teori-Teori
Pendidikan.Jogjakarta : Ar-Ruzz Media Group
Langganan:
Komentar (Atom)